Dinkes Fasilitasi Pertemuan, Pembentukan dan Pembinaan Forum Kabupaten Sehat

Dinkes Fasilitasi Pertemuan, Pembentukan  dan Pembinaan Forum Kabupaten Sehat

Survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1986, penyebab utama kematian adalah penyakit infeksi, sedangkan menurut SKRT 2001, telah bergeser, yaitu: penyebab utama adalah penyakit sirkulasi darah (26,4%), selanjutnya berturut-turut adalah penyakit saluran pencernaan, typhoid dan diare (15,1%); penyakit respirasi (12,7%) infeksi TB. Paru (9,4%), kanker (6,0%) dan kecelakaan/ injuri (5,6%).
Disamping itu karena perilaku, gaya hidup dan lingkungan berkembang penyakit tidak menular (PTM). Dewasa ini 27 % laki-laki dan 29% perempuan (25 tahun keatas) menderita hypertensi; 0,3 % mengalami penyakit jantung iskemik dan stroke; 1,2 % mengalami diabetes; 1,3 % laki-laki dan 4,6 % perempuan mengalami obesitas; kanker merupakan 6% penyebab kematian; dan kardiovaskuler menempati urutan pertama penyebab kematian (SKRT `92, `95 dan `01).
Langkah-langkah antisipasi untuk meningkatan kualitas lingkungan fisik dan sosial kota sudah saatnya dilakukan. Upaya tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun menjadi tanggung jawab semua pihak.
Sebaliknya di daerah kabupaten masih berorientasi pada permasalahan perilaku, sanitasi dasar, pelayanan kesehatan dan social, prasarana penunjang, kesediaan pangan dan jaminan gizi, kebakaran hutan, pertambangan liar. Secara bertahap akan mengikuti permasalahan perkotaan, sesuai dengan prkembangan di masing-masing wilayah.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut tentunya tidak mudah, meskipun baik di wilayah kabupate maupun wilayah perkotaan memiliki sumber daya dan potensi yang dapat diberdayakan secara maksimum. Di dalam memberdayakan sumber daya yang ada di daerah pedesaan maupun perkotaan tersebut diperlukan kemitraan antar pemerintah, swasta dan masyarakat.
Hubungan kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan swasta merupakan jaringan yang dapat mendorong hubungan yang lebih erat di dalam memperlancar pelaksanaan pembangunan yang terintegrasi yang menggabungkan aspek fisik, sosial, budaya, perekonomian masyarakat dan aspek kesehatan (kesehatan lingkungan, perilaku, pelayanan dan upaya kesehatan) yang sesuai dengan aspirasi masyarakat.
Pada saat ini pemerintah harus lebih membuka diri dan memberi peran lebih besar kepada masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat serta lebih memahami aspirasi kebutuhan masyarakat secara langsung. Pendekatan-pendekatan yang sifatnya top down dan instruksional harus lebih banyak dikurangi.
Pemberian kewenangan dan kepercayaan kepada masyarakat secara proaktif harus lebih digalakkan, sesuai dengan amanah yang termuat dalam Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yang isinya antara lain penyelenggaraan pembangunan perkotaan dan perdesaan perlu mengikutsertakan masyarakat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Setiap rencana pembangunan yang dilaksanakan merupakan kesepakatan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Pendekatan kota sehat pertama kali dikembangkan di Eropa oleh WHG pada tahun 1980-an sebagai strategi menyongsong Ottawa Charter, dimana ditekankan kesehatan untuk semua yang dapat dicapai dan langgeng, jika semua aspek, sosial, ekonomi, lingkungan dan budaya diperhatikan. Oleh karena itu, konsep kota sehat tidak hanya memfokuskan kepada pelayanan kesehatan yang lebih ditekankan kepada suatu pendekatan kondisi sehat dan problem sakit saja, tetapi kepada aspek menyeluruh yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, baik jasmani maupun rohani.
Perkembangan gerakan kota sehat di setiap negara berbeda satu sama lain, tergantung permasalahan yang dihadapi dan tidak dapat diperbandingkan. Kesamaan konsep kota sehat di seluruh negara adalah satu sama lain berasal dari keinginan dan kebutuhan masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan pemerintah berperan sebagai fasilitator. Disamping itu lebih mengutamakan pendekatan proses daripada target, tidak memiliki batas waktu dan berkembang secara dinamik sesuai dengan sasaran yang diinginkan masyarakat yang dicapai secara bertahap.
Tahun 1996 WHO menetapkan tema Hari Kesehatan Sedunia “Healty Cities for Better Life”. Di Indonesia kegiatan tersebut diantisipasi melalu berbagai seminar dan pertemuan, sehingga kemudian diluncurkan pilot proyek kota sehat di 6 kota, yaitu kabupaten Cianjur, kota Balikpapan, Bandar lampung, Pekalongan dan Jakarta Timur, yang dicanangkan oleh Mendagri pada tanggal 26 Oktober 1998 di Jakarta. Selanjutnya disepakati untuk mengembangkan kegiatan kabupaten/ kota sehat khususnya di bidang pariwisata di 8 kota, yaitu kawasan Anyer di kabupaten Serang, Batu Raden di Banyumas, Kota Gede di Yogyakarta, wisata Brastagi di Karo, pantai Senggigi di Lombok Barat, kawasan pantai dan laut Bunaken di manado, Tana Toraja dan kawasan Nongsa dan Marina di Batam.
Dalam pertemuan walikota dan bupati seluruh Indonesia pada tanggal 26-28 juli 2000, disepakati untuk mengembangkan kabupaten / kota sehat, atas dasar komitmen walikota/ bupati dan DPRD guna mendukung pembangunan berwawasan pembangunan, menuju Indonesia sehat 2010. Dengan meningkatkan upaya meningkatkan kesehatan merupakan tanggung jawab semua sektor, masyarakat dan swasta.
Hal ini selaras dengan konsep pembangunan berwawasan kesehatan yang dicanangkan oleh Presiden BJ. Habiebie pada tanggal 1 Maret 1999 pembangunan berwawasan kesehatan, yaitu setiap pembangunan yang dilakukan perlu mempertimbangkan aspek dan dampak kesehatan. Sebagai sasaran menengah pembangunan berwawasan, kesehatan adalah dengan visi terwujudnya Indonesia Sehat 2010, dan dengan misi pembangunan kesehatan sebagi berikut: menggerakan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau; memelihara dan meningkatkan kesehatan dan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.
Sesuai peraturan pemerintah republic Indonesia nomor 7 tahun 2005 tentang pembangunan jangka menengah nasional tahun 2004-2009, bahwa untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat dilakukan melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sector berwawasan kesehatan.
Salah satu kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini adalah pengembangan wilayah sehat. Pedoman penyelanggaraan kabupaten/ kota sehat di Indonesia dimaksudkan dapat menjadi acuan bagi para pelaku pembangunan, terutama dalam memfasilitasi forum kabupaten/ kota sehat berta di dalam melakukan advokasi dan sosialisasi baik kepada pemerintah daerah maupun kepada masyarakat.
Kabupaten / kota sehat adalah suatu kondisi kabupaten/ kota yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah.
Penyelenggaraan kabupaten /kota sehat adalah berbagai kegiatan untuk mewujudkan kabupaten/ kota sehat melalui pemberdayaan masyarakat, melalui forum yang difasilitasi oleh pemerintah kabupaten/ kota.
Kawasan sehat adalah suatu kondisi wilayah yang bersih, nyaman, aman, dan sehat bagi pekerja dan masyarakat, melaui peningkatan suatu kawasan potensial dengan berbagai peningkatan suatu kawasan potensial dengan berbagai kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat, kelompok usaha dan pemerintah daerah.
Desa/ kelurahan sehat adalah kondisi dari suatu desa yang bersih, aman, nyaman, dan sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai melalui terselenggaranya suatu kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan perangkat daerah.
Forum adalah wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya dan berpartisipasi. Di kabupaten kota disebut forum kabupaten/ kota berperan untuk menentukan arah, perioritas, perencanaan pembangunan wilayahnya yang menintegrasikan berbagai aspek, sehingga dapat mewujudkan wilayah yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni oleh warganya.
Di kecamatan disebut forum komunikasi desa/ kelurahan sehat     (FKD/KS) atau nama lain yang disepakati mengintegrasikan, mensinkronkan dan mensimplikasikan perioritas, perencanaan antara desa/ kelurahan satu dengan desa/ kelurahan lainnya di wilayah kecamatan yang dilakukan oleh masing-masing pokja Desa/ Kelurahan sehat.
Kelompok kerja (Pokja) atau nama lain yang disepakati masyarakat adalah wadah bagi masyarakat di pedesaan/ kelurahan atau yang bergerak di bidang usaha ekonomi, sosial & budaya, dan kesehatan untuk menyalurkan aspirasinya dan berpartisipasi dalam kegiatan yang disepakati mereka.
Tujuan kabupaten sehat, tercapainya kondisi Kabupaten/ Kota untuk hidup dengan bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni dan sebagai tempat bekerja bagi warganya dengan cara terlaksananya berbagai program-program kesehatan dan sektor lain, sehingga dapat meningkatkan sarana dan produktivitas dan perekonomian masyarakat.
Sasaran, terlaksananya program kesehatan dan sektor terkait yang sinkron dengan kebutuhan masyarakat, melalui pemberdayaan forum yang disepakati masyarakat. Terbentuknya forum masyarakat yang mampu menjalin kerjasama antar masyarakat, Pemerintah Daerah dan pihak swasta, serta dapat menampung aspirasi masyarakat dan kebijaka pemerintah secara seimbang dan berkelanjutan dalam mewujudkan sinergi pembangunan yang baik.
Terselenggaranya upaya peningkatan lingkungan fisik, sosial dan budaya, serta perilaku dan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan secara adil, merata dan terjangkau dengan memaksimalkan seluruh potensi sumber daya di Kabupaten/ Kota tersebut secara mandiri. Terwujudnya kondisi yang kondusif bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dan ekonomi wilayah dan masyarakatnya sehingga mampu meningkatkan kehidupan dan penghidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Pelaksanaan Kabupaten/ Kota Sehat, diwujudkan dengan menyelenggarakan semua program yang menjadi permasalahan di daerah secara bertahap dimulai kegiatan perioritas bagi masyarakat di sejumlah kecamatan pada sejumlah desa/ kelurahan atau bidang usaha yang bersifat sosial ekonomi dan budaya di kawasan tertentu.
Pelaksanaan Kabupaten/ Kota Sehat dilaksanakan dengan mendapatkan masyarakat sebagai pelaku pembangunan, yaitu melalui pembentukan atau pemanfaatan forum kota atau nama lainnya yang disepakati masyarakat, dengan dukungan pemerintah daerah dan mendapatkan fasilitasi dari sektor terkait melalui program yang telah direncanakan daerah.
Di Kabupaten Majene telah dilaksanakan pembentukan dan pembinaan forum Kabupaten Sehat. Kegiatan ini dilaksanakan  di Aula Hotel Dafina Inn, lembang Kabupaten Majene, juli 2017. Peserta Pertemuan terdiri dari : Forum Pembina Kabupaten Sehat, Forum Kabupaten Sehat.
Pada kegiatan ini juga digelar Sosialisasi Forum Kab. Sehat, Sosialisasi Forum Kecamatan/Desa Kel. Sehat.
Peserta disajikan materi Kebijakan nasional pembangunan kesehatan, Kebijakan daerah tentang pembentukan forum dan pembina kabupaten sehat, Kebiajakan nasional tentang Pembentukan Forum Kabupaten Sehat.  Narasumber terdiri dari Bupati Majene     DR. H. Fahmi Massiara, MH, Kepala Dinas Kesehatan        drg. Hj. Nurwan Katta, MARS,
Kepala Badan Perencanaan Daerah Andi Adlina Basharoe,  dan Guru Besar FKM UNHAS, Pelaku Forum Kabupaten Sehat dan Pelaku Pembina Kabupaten Sehat Sulawesi Barat.        :  -
Kabupaten/Kota Sehat adalah suatu kondisi Kabupaten/Kota yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintregasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah.
Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat adalah berbagai kegiatan untuk mewujudkan Kabupaten/Kota Sehat melalui pemberdayaan masyarakat, melalui forum yang difasilitasi oleh pemerintah kabupaten/kota.(*)

 


KOMENTAR
Tulis Komentar Disini